Nama : Junita Simanjuntak
Kelas : Pagi
Prodi : Akuntansi
1.
Berikut
ini adalah 6 unsur manajemen yang diperlukan yaitu sebagai berikut :
1)
Manusia
(Man)
Unsur manajemen yang pertama dan paling utama adalah man
atau manusia. Lebih spesifik lagi, man merujuk pada sumber daya manusia (SDM)
yang dimiliki. Adanya sumber daya manusia sangat penting untuk melakukan proses
manajemen, mulai dari perencanaan hingga proses produksi yang dilaksanakan.
Unsur ini juga meliputi pekerja yang dimiliki. Tanpa
adanya unsur manusia, tentu manajemen tidak bisa dilakukan. Nantinya tiap-tiap
individu juga memiliki tugas dan tanggungjawab masing-masing, sesuai dengan
struktur dan keahlian masing-masing. Karena itulah unsur ini menjadi unsur yang
paling vital dalam manajemen.
2)
Uang
(Money)
Selanjutnya ada unsur uang atau money. Dalam manajemen,
uang sangat penting agar tujuan yang diinginkan dapat tercapai. Untuk
menjalankan aktivitas perusahaan atau industri, uang dibutuhkan sebagai modal
untuk membeli bahan baku, membeli alat dan mesin, menggaji karyawan, menyewa
lahan, dan lain sebagainya.
Kegiatan atau ketidaklancaran proses manajemen tentu akan
sangat dipengaruhi oleh pengelolaan keuangan perusahaan yang baik. Pengelolaan
uang dan kas perusahaan haruslah dilakukan dengan benar dan sesuai dengan
kebutuhan perusahaan itu sendiri. Untuk itulah unsur uang ini juga sangat
penting dan haruslah diperhatikan.
3)
Bahan
(Materials)
Bahan atau materials juga termasuk unsur manajemen. Unsur
ini sangat dibutuhkan untuk melaksanakan kegiatan perusahaan. Bahan tersebut
nantinya akan diolah hingga menghasilkan produk tertentu. Tanpa adanya bahan
baku, tentu aktivitas perusahaan tidak bisa berjalan karena tidak ada produk
yang bisa dihasilkan.
Unsur ini sangat berkaitan dengan unsur manusia. Dalam
proses produksi, sumber daya manusia (SDM) akan mengolah dan menjadikan bahan
baku atau sumber daya alam (SDA) menjadi produk jadi atau setengah jadi yang
akan dijual. Karena itulah, unsur bahan atau material ini juga dianggap sebagai
sarana manajemen untuk mencapai tujuan.
4)
Mesin
(Machines)
Dalam proses manajemen, mesin atau machines juga penting
dan berfungsi untuk memudahkan pelaksanaan aktivitas perusahaan. Dengan adanya
alat dan mesin, maka waktu yang dibutuhkan dalam proses produksi dan pengolahan
bahan baku akan semakin cepat dan efisien, serta menekan biaya agar minim.
Dengan perkembangan teknologi yang maju dan modern saat
ini, tentu mesin sudah menjadi kebutuhan wajib bagi tiap perusahaan untuk
melakukan proses produksi. Selain itu, produksi dengan bantuan alat dan mesin
tentu akan meminimalisir kesalahan yang biasa dilakukan manusia (human error).
5)
Metode
(Methods)
Unsur manajemen selanjutnya adalah metode atau methods.
Yang dimaksud metode adalah tata cara atau langkah-langkah yang dilakukan dalam
aktivitas perusahaan. Umumnya metode yang disepakati dan digunakan dikenal
sebagai standard operational procedure (SOP) yang harus dipatuhi oleh pekerja.
Adanya metode sangat penting sehingga produksi dapat
berjalan dengan baik dan benar serta runtut dari awal sampai akhir, yang
diterapkan pada tiap-tiap divisi atau bagian dalam perusahaan. Pemilihan metode
yang tepat dan benar tentu akan membuat proses produksi dapat berjalan lebih
efektif dan efisien.
6)
Pasar
(Market)
Unsur manajemen yang terakhir adalah pasar atau market.
Pasar menjadi unsur yang sifatnya sangat strategis, karena penguasaan pasar
akan menjadi faktor yang menentukan keberhasilan perusahaan. Yang dimaksud
pasar adalah sektor konsumen yang ditargetkan atau dituju dengan harapan
konsumen membeli produk yang dihasilkan perusahaan.
Untuk menguasai dan mendominasi pasar, tentu ada
langkah-langkah yang harus dilakukan, mulai dari menentukan segmentasi konsumen
yang dituju, menghasilkan produk yang berkualitas dan sesuai dengan kebutuhan
pasar, melakukan iklan dan promosi yang gencar dengan strategi yang tepat, dan
lain sebagainya.
2.
Sifat
umum yang dimiliki oleh seseorang untuk mencapai kesuksesan dalam kepemimpinan
dalam organisasi adalah:
1)
Memiliki
sebuah bentuk kondisi badan yang dimana akan sesuai dengan tugas yang
diberikan. Hal ini dikarenakan tugas kepemimpinan akan melakukan penuntutan
dari sifat kesehatan yang tertentu pula.
2)
Memiliki
pengetahuan yang luas. Berpengetahuan luas tidak akan selalu memiliki sebuah
pendidikan yang tinggi. Ada pula orang orang yang tidak memiliki pendidikan
tinggi tapi memiliki kemampuan berpikir yang lebih baik daripada orang yang
berpendidikan tinggi.
3)
Memiliki
sebuah keyakinan terhadap organisasi akan dapat berhasil dalam mencapai sebuah
tujuan yang dimana akan ditentukan dan juga bakat dari kepemimpinan yang ada.
Seperti percaya diri yang dimana menjadi modal yang sangatlah penting.
4)
Memiliki
sebuah tingkat stamina dan juga semangat bekerja tuntas yang besar.
5)
Memiliki
kemampuan yang terbilang cepat dalam melakukan pengambilan keputusan.
6)
Memiliki
sifat yang objektif dalam seluruh emosi yang ada.
3.
Berikut
dibawah ini ada 14 tipe / gaya kepemimpan
yakni sebagai berikut :
1)
Tipe
Kepemimpinan Otokratis
Kepemimpinan otokratis adalah gaya kepemimpinan yang
berpusat pada satu orang, yaitu bos. Dalam tipe kepemimpinan ini, pemimpin
memegang semua kewenangan dan tanggung jawab atas perusahaan dan bawahannya.
Sebagai pemimpin otokratis biasanya selalu mengambil keputusan sendiri tanpa
berkonsultasi denngan bawahannya. Pemimpin jenis ini juga memiliki ambisi kuat
dan ketika berkomunikasi dengan bawahannya selalu mengharapkan pelaksanaan yang
cepat dan tanggap.
Jarang ada / tidak ada sama sekali fleksibilitas, karena
dalam jenis kepemimpinan ini semua kebijakan berasal dari seorang pemimpin
otokratis. Saat ini kedengarannya sulit untuk mengharapkan situasi yang
mendukung kepemimpinan otokratis, namun Donald Trump (Trump Organization) dan
Albert J Dunlap (Sunbeam Corporation) adalah beberapa contoh pemimpin dan
perusahaan yang menjalankan jenis kepemimpinan ini.
2)
Kepemimpinan
Demokratis
Sangat berbeda dengan kepemimpinan otokratis,
kepemimpinan demokratis lebih melibatkan kontribusi bawahan untuk setiap
keputusan yang diambil oleh pemimpin.
Tanggung jawab akhir tetap dipegang oleh pemimpin demokratis, hanya saja
dalam prosesnya pemimpin banyak mendelegasikan wewenangnya kepada bawahan untuk
menyelesaikan beberapa proyek kerja.
Untuk menjalankan kepemimpinan ini dibutuhkan keberanian,
kejujuran, kreativitas, keadilan, kecerdasan dan kompetensi. Satu hal lagi,
tipe kepemimpinan demokratis menawarkan komunikasi aktif antara atasan dan
bawahan. Inilah yang membuat gaya kepemimpinan ini paling banyak disukai,
setidaknya menurut berbagai data statistik.
3)
Gaya
Kepemimpinan Strategis
Kepemimpinan strategis adalah salah satu yang menjadikan
seorang pemimpin layaknya sebuah kepala organisasi. Biasanya pemimpin strategis
tidak hanya berasal dari orang-orang level atas suatu perusahaan. Pemimpin ini
biasanya dipilih untuk tujuan yang lebih luas agar bisa menciptakan kinerja
yang baik untuk perusahaan.
Fungsi pemimpin strategis adalah mengisi kesenjangan
antara kebutuhan baru dan kebutuhanpraktis dalam suatu perusahaan. Kepemimpinan strategis biasanya sangat
diharapkan dan efektif dilakukan pada masa perubahan suatu perusahaan karena
hampir 55% dari gaya kepemimpinan ini melibatkan pemikiran yang strategis.
4)
Gaya
Kepemimpinan Transformasional
Sangat berbeda dengan tipe-tipe kepemimpinan yang
lainnya. Gaya kepemimpinan transformasional selalu berkaitan dengan memulai
perubahan baik dalam diri sendiri, orang lain, kelompok maupun organisasi.
Pemimpin transformasional selalu bisa memotivasi orang lain untuk melakukan
sesuatu yang melebihi apa yang sebelumnya mereka harapkan.
Pemimpin transformasional selalu menetapkan hal yang
menantang dan harapan yang lebih tinggi dibandingkan dengan gaya kepemimpinan
yang lainnya. Oleh karena itu kepemimpinan ini selalu memiliki pengikut yang
berkomitmen dan merasa puas karena pemimpinnya sangat memberdayakan pengikut
yang memiliki visi-misi yang sama.
5)
Kepemimpinan
Tim
Kepemimpinan tim dibentuk dengan landasan yang sama
dengan membentuk tim kesebelasan / tim sukses. Semua yang ada pada jenis
kepemimpinan ini selalu melibatkan gambaran yang jelas mengenai masa depan,
dimana ia sedang menuju dan untuk apa dia melakukan sesuatu. Semua ini berkat
visi yang ditanamkan untuk memberikan rasa yang kuat mengenai tujuan yang akan
dicapai dan arah menuju tujuan tersebut.
Kepemimpinan ini selalu menekankan bekerja dengan hati
dan pikiran semua orang yang terlibat. Hal yang menantang dari kepemimpinan tim
adalah tidak selamanya akan membuahkan hasil yang bagus, kepemimpinan ini bisa
gagal karena kualitas pemimpin yang buruk namun bisa juga berhasil apabila
kondisinya sebaliknya.
6)
Kepemimpinan
Lintas Budaya
Keberagaman kebudayaan telah memberikan kontribusi
hadirnya tipe kepemimpinan ini. Jenis kepemimpinan yang ada karena terdapat
berbagai budaya di masyarakat. Pemimpin jenis ini juga selalu berfikir lebih
maju dan mengenali pasar global kontemporer.
Saat ini dibutuhkan pemimpin yang secara efektif mampu
menyesuaikan gaya kepemimpinan mereka dengan lingkungan yang berbeda, terlebih
untuk perusahaan internasional.
7)
Kepemimpinan
fasilitatif
Salah satu gaya kepemimpinan yang selalu bergantung pada
pengukuran dan hasil. Pemimpin fasilitatif selalu memperhatikan efektivitas
kelompok dengan efektivitas prosesnya. Jika suatu kelompok memliki efektivitas
yang tinggi maka pemimpin tidak banyak campur tangan, sedangkan jika kelompok
tidak efektif maka pemimpin akan member petunjuk dan membantu kelompok tersebut
menjalankan prosesnya.
Kepemimpian fasilitatif melibatkan pemantauan terhadap
dinamika kelompok / bawahannya. Pemimpin kemudian menawarkan saran proses
pelaksanaan dan melakukan intervensi untuk membentu kelompok yang berjalan
tidak sesuai dengan jalurnya.
8)
Tipe
Kepemimpinan Laissez-faire
Gaya kepemimpinan laissez-faire selalu memberikan
kewenangan kepada karyawan. Pemimpin Laissez-faire memberikan sikap permisif
yang mengizinkan karyawan memilih cara kerja sesuai dengan apa yang mereka
kehendaki agar merasa nyaman dan menghasilkan output yang sesuai dengan tujuan
perusahaan. Pemimpin disini tidak banyak melakukan intervensi karena intervensi
bisa sangat menggangu karyawan yang telah dewasa untuk menjalankan tugasnya.
Menurut berbagai penelitian, kepemimpinan laissez-faire
adalah gaya manajemen yang paling efektif dan memuaskan. Banyak perusahaan yang
mencapai tujuannya secara konsisten menggunakan kepemimpinan ini.
9)
Kepemimpinan
Transaksional
Jenis kepemimpinan yang mempertahankan dan melanjutkan
status quo. Kepemimpinan ini juga melibatkan proses pertukaran layaknya
jual-beli. Pengikut akan mendapatkan imbalan dengan segera setelah berhasil
melaksanakan perintah pemimpinnya.
Pada dasarnya gaya kepemimpinan ini memiliki fokus pada
harapan dan pemimpin diharapkan mampu memberikan keterampilan umpan balik dalam
proses pelaksanaan perusahaan. Mengutip Boundless.com, kepemimpinan
transaksional meliputi:
a)
Menjelaskan
apa yang diharapkan dari kinerja karyawan
b)
Menjelaskan
bagaimana karyawan bisa memenuhi harapan tersebut
c)
Memberikan
imbalan terhadap keberhasilan karyawan mencapai tujuan perusahaan
10)
Kepemimpinan
Pembinaan
Tipe pemimpin pada jenis ini selalu berusaha memberikan
pengajaran dan mengawasi bawahannya. Pemimpin selalu mengatur hasil yang akan
dicapai dan apa saja yang memerlukan perbaikan. Pada intinya pemimpin
senantiasa memberikan pembinaan dengan meningkatkan keterampilan mereka,
kemudia pemimpin memberikan motivasi yang mendorong motivasi bawahannya untuk
mencapai tujuan perusahaan.
11)
Kepemimpinan
Karismatik
Karisma tidak hanya perubahan perilaku saja, ini
merupakan perubahan transformasi nilai-nilai dan kayakinan bawahannya terhadap
pemimpinnya. Pemimpin karismatik adalah seseorang yang mampu memanifetasikan
kekuatan revolusionernya. Inilah yang membedakan pemimpin karismatik dengan
pemimpin populis, ia mampu mempengaruhi sikap terhadap objek tertentu.
12)
Gaya
Kepemimpinan Visioner
Tipe kepemimpinan yang melibatkan seseorang yang
mengetaui bahwa metode, langkah-langkah dan proses kepemimpinannya diperoleh
dengan dan melalui orang lain. Pemimpin yang sukses selalu memiliki aspek visi
dalam dirinya dan selalu mengubah visi tersebut menjadi sesuatu yang nyata.
Perlu diingat bahwa beberapa orang yang sangat visioner
cenderung memamerkan kepemimpinan visioner dan banyak orang tidak nyaman dengan
hal itu.
13)
Tipe
Kepemimpinan Administratif/Eksekutif
Kepemimpinan tipe administratif ialah kepemimpinan yang
mampu menyelenggarakan tugas-tugas administrasi secara efektif. Pemimpinnya
biasanya terdiri dari teknokrat-teknokrat dan administratur-administratur yang
mampu menggerakkan dinamika modernisasi dan pembangunan. Oleh karena itu dapat
tercipta sistem administrasi dan birokrasi yang efisien dalam pemerintahan.
Pada tipe kepemimpinan ini diharapkan adanya perkembangan teknis yaitu
teknologi, indutri, manajemen modern dan perkembangan sosial ditengah
masyarakat.
14)
Tipe
Kepemimpinan Populistis
Kepemimpinan populis berpegang teguh pada nilai-nilai
masyarakat yang tradisonal, tidak mempercayai dukungan kekuatan serta bantuan
hutang luar negeri. Kepemimpinan jenis ini mengutamakan penghidupan kembali
sikap nasionalisme.
4.
SDM mengatur
program kepegawaian yang
menyakut masalah masalah sebagai
berikut:
1)
Menetapkan jumlah
, kualitas dan
penempatan tenaga kerja
yang efektif sesuai dengan
kebutuhan perusahaan berdasarkan
job discription, job
specification, job requirement,
dan job evaluation.
2)
Menetapkan penarikan,
seleksi, dan penempatan karyawan berdasarkan
asas the right man in the right
place and the right man in the right job
bahkan untuk akhir-akhir ini in the right man in the right time.
3)
Menetapkan
program kesejahteraan, pengembangan, promosi, dan pemberhentian.
4)
Meramalkan penawaran
dan permintaan sumberdaya manusia
pada masa yang akan datang
5)
Memperkirakan keadaan
perekonomian pada umumnya
dan perkembangan perusahaan pada
khususnya
6)
Memonitor dengan
cermat undang-undang perburuhan
dan kebijaksanaan pemberian
balas jasa perusahaan-perusahaan yang sejenis.
7)
Memonitor
kemajuan teknik dan perkembangan serikat buruh.
8)
Melaksanakan
pendidikan , latihan, danpenilaian prestasi karyawan.
9)
Mengatur
mutasi karyawan baik vertikal maupun horizontal.
10)
Mengatur
pensiun, pemberhetian dan pesangonnya.
5.
Bidang
kegiatan yang memerlukan keahlian Manajemen Operasional yakni sebagai berikut :
Manajer
Pabrik (Plant Manager) :manajemen pabrik termasuk keahlian di bidang
perencanaan produksi, manajemen
pembelian, manajemen persediaan, termasuk pengelolaankaryawan di bagian
operasional maupun pengelolalaan sumber daya lainnya yang dipergunakan di
pabrik.
Direktur Pembelian (Director of
Purchashing): mengenai
fungsi pembelian, kemampuan menelaah
program penjualan, mengintegrasikan atau
membuat keterkaitan dari supplier
sampai distributor, mengkoordinasi aktifitas operasi.
Manajer Mutu (Quality Manager) :mengenai konsep
statistic untuk dapat melakukan pengawasan
semua aspek operasional
karena kualitas merupakan
tanggung jawab secara bersama
diantarasemua pihak yang
terlibat dalam perusahaan
terutama fungsi operasional.
Konsultan
Perbaikan Proses (Process Improvement Consultants) : berkaitan dengan desain
proses sehingga dapat memberikan berbagai konsultasi mengenai perbaikan proses
untuk operasiperusahaan
Manajer dan
Perencana Rantai Pasokan
(Supply Chain Manager
and Planner) bertanggung jawab
mengenai negosiasi kontrak jangka panjang antara perusahaan dengan
supplier maupun distributor
sehingga harus mempunyai
keahlian tentang Material
Requirement Planning, Supply
Chain Management, Teknologi
komunikasi canggih dalam dunia
bisnis, konsep penjadwalan dan persediaan.
6.
Tingkatan
Manajemen pada suatu organisasi dikelompokkan pada 3 tingkatan manajemen yang
berbeda yaitu manajemen lini pertama, manajemen tingkat menengah, dan manajemen
puncak.
1)
Manajemen
Lini Pertama (first-line management)
Tingkatan manajemen lini pertama adalah tingkatan
manajemen paling bawah pada sebuah organisasi.Manajemen lini pertama memiliki
tugas untuk memimpin dan mengkontrol pekerja non manajerial pada sebuah
perusahaan atau organisasi. Tingkatan pada manajemen ini tidak membawahi
tingkatan manajemen yang lainnya.
Beberapa contoh tingkatan manajemen lini pertama adalah
penyelia (supervisor) atau pengawas, manajer lokasi, manajer perkantoran,
manajer departemen, manajer shift, atau mandor.
Manajemen ini disebut juga manajemen operasional yang
terlibat secara langsung pada proses produksi dan bertanggung jawab untuk
menyelesaikan berbagai rencana yang telah ditentukan oleh tingkatan manajemen
yang lebih tinggi.Perlu diketahui tingkatan manajemen awal ini dipilih oleh
manajemen level menengah. Diantara keahlian yang utama dibutuhkan adalah
keahlian komunikasi, pengambilan keputusan, manajemen waktu dan teknikal.
Manajemen tingkat awal memiliki berbagai kegiatan yang
harus dilakukan seperti :
a)
Memerlukan
ketrampilan teknis (keahlian yang mencakup prosedur teknis, pengetahuan dan keahlian
dalam bidang khusus) dan kemampuan komunikasi yang baik.
b)
Menyusun
perencanaan jangka pendek (harian, mingguan dan bulanan).
c)
Mengarahkan
sejumlah karyawan yang berada di bawah komandonya.
d)
Memberikan
informasi terkait keputusan yang diambil oleh manajemen kepada para karyawan
dan memberikan informasi terkait kinerja, hambatan, kesulitan dan tuntutan dari
para karyawan kepada manajemen yang lebih tinggi.
e)
Menjaga
hubungan baik antara manajemen tingkat menengah dan para karyawan.
f)
Bertanggung
jawab dan memberikan laporan secara langsung kepada manajemen level menengah.
2)
Manajemen
Tingkat Menengah (Middle Management)
Tingkatan pada manajemen level menengah merupakan manajemen yang antara manajemen
lini pertama dan manajemen puncak. Tingkatan manajemen ini memiliki tanggung
jawab atas pelaksanaan rencana yang telah ditetapkan oleh manajemen puncak.
Manajemen tingkat menengah mempunyai tanggung jawab pula
terhadap segala kegiatan yang dilaksanakan oleh tingkatan manajemen di bawahnya
bahkan terhadap beberapa karyawan operasional. Contoh tingkatan manajemen
tingkat menengah seperti kepala departemen (manajer pemasaran, manajer
keuangan, dll) atau HOD, kepala bagian, pemimpin proyek, manajer cabang (cabang
perusahaan atau unit lokal), manajer pabrik, Junior Executive (asisten manajer
pembelian, asisten manajer pemasaran, dll) dan manajer divisi. Manajemen level
menengah ini ditunjuk oleh manajemen puncak. Kemampuan yang dibutuhkan di
antaranya adalah keahlian konseptual, komunikasi, pengambilan keputusan,
manajemen waktu dan juga teknikal.
Peran manajemen tingkat menengah pada suatu organisasi
adalah sebagai berikut :
a)
Memerlukan
ketrampilan manajerial serta kemampuan teknis.
b)
Menjadi
perantara antara manajemen puncak dan manajemen lini pertama.
c)
Merencanakan
rencana jangka menengah antara 1 – 5 tahun.
d)
Berkoordinasi
dengan departemen yang ada atas semua kegiatan yang dilakukan.
e)
Menjalankan
perintah, kebijakan, dan rencana yang ditetapkan oleh manajemen puncak.
f)
Bertanggung
jawab secara langsung kepada manajemen puncak seperti Dewan Direksi dan CEO perusahaan.
g)
Memberi
saran atau rekomendasi kepada manajemen puncak sesuai dengan kondisi yang ada.
3)
Manajemen
Puncak (Top Management)
Manajemen puncak mempunyai tanggung jawab pada semua
manajemen organisasi. Tingkatan manajemen puncak memiliki tugas membuat rencana
aktivitas dan strategi perusahaan secara global dan mengarahkan jalannya
perusahaan. Beberapa contoh tingkatan manajemen puncak seperti dewan direksi,
CEO (Chief Executive Officer), CIO (Shief Informatioan Officer), CFO (Chief
Financial Officer), General Manajer atau dikenal dengan Presiden Direksi
(Presdir). Direksi adalah wakil para pemilik perusahaan atau pemilik saham.
Mereka ditetapkan oleh para pemegang saham perusahaan dan CEO ditunjuk oleh
dewan direksi perusahaan. Untuk manajemen tingkat ini, keahlian utama yang
diperlukan adalah keahlian dalam hal konseptual, komunikasi, pengambilan
keputusan, manajemen global, dan manajemen waktu.
Peran yang paling utama pada manajemen puncak adalah :
1)
Dibutuhkan
kemampuan konseptual dibandingkan kemampuan teknis.
2)
Mampu
memobilisasi sumberdaya yang dimiliki perusahaan.
3)
Bertanggung
Jawab penuh terhadap keberjalanan perusahaan kepada dewan direksi, pemerintah dan
masyarakat umum.
4)
Menentukan
perencanaan, tujuan dan kebijakan perusahaan atau organisasi.
5)
Mempersiapkan
rencana jangka panjang perusahaan.
6)
Manajemen
puncak bekerja melalui pemikiran, perencanaan kemudian memutuskan sehingga disebut
juga dengan otak organisasi atau Administrator.
7.
Pendekatan
rasional dalam pengambilan keputusan dapat dilakukan dengan cara :
1)
Meneliti
situasi
Tahap pertama adalah meneliti atau mendefenisikan
problem. apabila manajer telah mengenali problem yang sesuangguhnya, manajer
dapat meneliti lebih lanjut untuk memperoleh pemahaman yang lebih solidmengenai
problem tersebut.
2)
Mengembangkan
alternatif Pemecahan
Setelah problem teridentifikasi, manajer dapat
mengembangkan alternatif - alternatif pemecahan yang praktis dan kreatif serta
mempertimbangkan segala keterbatasan dalam setiap alternatif.
3)
Mengevaluasi
alternatif dan memilih alternatif yang terbaik
Dari alternatif - alternatif yang telah diperoleh,
manajer harus mampu mengevaluasi sejauh mana alternatif yang ada mampu
memberikan kontribusi yang paling baik terhadap perusahaan dan memiliki resiko
yang paling rendah.
8.
Menurut
W.H. Newman pengambilan keputusan ini menyangkut 4 (empat) langkah/tahap pokok
:
1)
Menentukan
diagnosa dari masalah yang sebenarnya (Diagnose the problem properly);
2)
Pikirkan
satu atau lebih pemecahan yang baik (conceive of one or more good solution);
3)
Proyeksikan
dan bandingkan konsekwensi daripada alternatif itu(Project and compare the
consequences of such alternative);
4)
Berilah
penilaian perbedaan dari sejumlah konsekwensi itu dan pilihlah langkah
tindakannya (Evaluate these different sets of consequences and select a course
of action).
9.
George
R. Terry,1958 dalam bukunya Principles of Management (Sukarna, 2011: 10)
membagi empat fungsi dasar manajemen, yaitu Planning (Perencanaan), Organizing
(Pengorganisasian), Actuating (Pelaksanaan) dan Controlling (Pengawasan).
Keempat fungsi manajemen ini disingkat dengan POAC.
1)
Planning
(Perencanaan)
George R. Terry dalam bukunya Principles of Management
(Sukarna, 2011: 10) mengemukakan tentang Planning sebagai berikut, yaitu
“Planning is the selecting and relating of facts and the making and using of
assumptions regarding the future in the visualization and formulation to
proposed of proposed activation believed necesarry to accieve desired result”.
“….Perencanaan adalah pemilih fakta dan penghubungan
fakta-fakta serta pembuatan dan penggunaan perkiraan-perkiraan atau
asumsi-asumsi untuk masa yang akan datang dengan jalan menggambarkan dan
merumuskan kegiatan-kegiatan yang diperlukan untuk mencapai hasil yang
diinginkan.”
2)
Organizing
(Pengorganisasian)
Pengorganisasian tidak dapat diwujudkan tanpa ada
hubungan dengan yang lain dan tanpa menetapkan tugas-tugas tertentu untuk masing-masing
unit. George R. Terry dalam bukunya Principles of Management (Sukarna, 2011:
38) mengemukakan tentang organizing sebagai berikut, yaitu “Organizing is the
determining, grouping and arranging of the various activities needed necessary
forthe attainment of the objectives, the assigning of the people to thesen
activities, the providing of suitable physical factors of enviroment and the
indicating of the relative authority delegated to each respectives activity.
“…Pengorganisasian ialah penentuan, pengelompokkan, dan
penyusunan macam-macam kegiatan yang dipeelukan untuk mencapai tujuan,
penempatan orang-orang (pegawai), terhadap kegiatan-kegiatan ini, penyediaan
faktor-faktor physik yang cocok bagi keperluan kerja dan penunjukkan hubungan
wewenang, yang dilimpahkan terhadap setiap orang dalam hubungannya dengan
pelaksanaan setiap kegiatan yang diharapkan.
3)
Actuating
(Pelaksanaan /Penggerakan)
Menurut George R. Terry dalam bukunya Principles of
Management (Sukarna, 2011: 82) mengatakan bahwaActuating is setting all members
of the group to want to achieve and to strike to achieve the objective
willingly and keeping with the managerial planning and organizing efforts.
“….Penggerakan adalah membangkitkan dan mendorong semua
anggota kelompok agar supaya berkehendak dan berusaha dengan keras untuk
mencapai tujuan dengan ikhlas serta serasi dengan perencanaan dan usaha-usaha
pengorganisasian dari pihak pimpinan.
Definisi diatas terlihat bahwa tercapai atau tidaknya
tujuan tergantung kepada bergerak atau tidaknya seluruh anggota kelompok
manajemen, mulai dari tingkat atas, menengah sampai kebawah. Segala kegiatan
harus terarah kepada sasarannya, mengingat kegiatan yang tidak terarah kepada
sasarannya hanyalah merupakan pemborosan terhadap tenaga kerja, uang, waktu dan
materi atau dengan kata lain merupakan pemborosan terhadap tools of management.
Hal ini sudah barang tentu merupakan mis-management.
4)
Controlling
(Pengawasan)
Control mempunyai perananan atau kedudukan yang penting
sekali dalam manajemen, mengingat mempunyai fungsi untuk menguji apakah
pelaksanaan kerja teratur tertib, terarah atau tidak. Walaupun planning, organizing,
actuating baik, tetapi apabila pelaksanaan kerja tidak teratur, tertib dan
terarah, maka tujuan yang telah ditetapkan tidak akan tercapai. Dengan demikian
control mempunyai fungsi untuk mengawasi segala kegaiatan agara tertuju kepada
sasarannya, sehingga tujuan yang telah ditetapkan dapat tercapai.
Menurut George R. Terry (Sukarna, 2011: 110) mengemukakan
bahwa Controlling, yaitu:
Controlling can be defined as the process of determining
what is to accomplished, that is the standard, what is being accomplished. That
is the performance, evaluating the performance, and if the necessary applying
corrective measure so that performance takes place according to plans, that is
conformity with the standard.
“…Pengawasan dapat dirumuskan sebagai proses penentuan
apa yang harus dicapai yaitu standard, apa yang sedang dilakukan yaitu
pelaksanaan, menilai pelaksanaan, dan bilaman perlu melakukan
perbaikan-perbaikan, sehingga pelaksanaan sesuai dengan rencana, yaitu selaras
dengan standard (ukuran).
10.Sebagai pemimpin dan atasan langsung dari karyawan,
manajer bertanggung jawab terhadap kinerja sebuah tim. Dalam setiap perusahaan,
tugas manajer yang paling pokok adalah memimpin, mengarahkan, dan mengawasi
staf untuk bekerja sama mencapai tujuan organisasi.
Seorang
manajer yang hebat akan membentuk tim yang bekerja untuk membantu perusahaan
mewujudkan visi bisnis. Ia akan melakukan hal tersebut dengan cara merekrut
orang-orang yang tepat, memotivasi mereka, dan meningkatkan produktivitas tim
dalam jangka panjang. Sebaliknya, manajer dengan kualifikasi rata-rata akan
sekadar menjalankan tugas untuk memenuhi target.
5
fungsi yang membentuk tugas manajer di perusahaan
1)
Perencanaan.
Seorang manajer bersama jajaran di organisasi merencanakan bagaimana setiap
divisi akan bekerja untuk mengembangkan perusahaan dan mencapai tujuan.
Perencanaan dapat menyangkut banyak hal, dari soal rencana bisnis, kebutuhan
tenaga kerja, target pertumbuhan, hingga penyusunan anggaran.
2)
Pengaturan.
Tugas manajer selanjutnya adalah mengatur dan mengelola tim agar sejalan dengan
tujuan organisasi. Tanggung jawab ini meliputi perencanaan pekerjaan, pembagian
dan pendistribusian tugas ke setiap staf, penetapan target, penyusunan prosedur
operasional dan standar kinerja, serta penerapan proses kerja yang efisien.
3)
Pengawasan.
Manajer punya wewenang untuk mengawasi dan mengendalikan tim untuk memastikan
agar proses berjalan sesuai rencana. Manajer juga bertanggung jawab untuk
mengidentifikasi kendala dan hambatan tim serta membantu mereka mengatasinya.
4)
Evaluasi.
Tugas manajer ini terkait dengan evaluasi dan penilaian terhadap proses dan
hasil, apakah meleset atau melampaui target. Manajer bertanggung jawab mencari
tahu di mana bottleneck dari keseluruhan proses dan apa yang harus diperbaiki.
Mereka juga mengevaluasi bagaimana kinerja setiap karyawan dan memberikan
penilaian individual.
5)
Kepemimpinan.
Ini merupakan tugas manajer yang tak kalah penting. Manajer adalah pemimpin di
setiap divisi, sehingga mereka harus mampu memotivasi seluruh anggota tim untuk
bekerja mencapai tujuan bersama.